| Daisuke Mampir Jombang |
| Minggu, 30 Oktober 2011 13:23 |
|
pernah lepas dari kepala, melindungi wajahnya yang mulai dimakan usia dari terpaan sinar matahari.
Namun, ciri paling jelas untuk mengenalinya, adalah setengah lusin tas yang bertumpuk dan terikat bergelantungan di sepedanya. Berbekal sepeda itu, Daisuke mewujudkan impiannya mengelilingi dunia.
Sejak meninggalkan Osaka, 23 Juli 1998, Daisuke mengayuh sepedanya melewati pegunungan bersalju dan gurun tandus, melintasi batas negara dan benua. Tak hanya sekali, sarjana ekonomi lulusan Universitas Osaka ini telah dua kali mengelilingi bumi. Pria petualang ini telah berhasil menyinggahi ratusan negara berbeda dengan menaiki sepeda kesayangannya. Dan lebih hebatnya lagi, misi berkeliling dunia oleh Daisuke telah membawa kedua kakinya untuk mengayuh pedal selama sebelas tahun sejak titik pertama keberangkatannya! Sudah 125 negara yang ia singgahi dalam perjalanan mengelilingi dunia. Indonesia, merupakan negara ke 125 yang ia singgahi sejak perjalanan yang dimulai tanggal 23 Juli 1998 lalu yang diawali dari Anchorage, Alaska, Amerika Utara. Sudah 11 tahun pria lulusan Osaka University itu menghabiskan hidup di atas sepeda yang ia bawa dari negeri sakura. Sejuta kisah telah dialaminya untuk perjalanan yang juga sebagai kampanye damai itu. Sejak tahun 1998 ia telah menjelajah dunia selama 2 kali, ini membuatnya belajar dan akhirnya dapat untuk berbicara bahasa tertentu, Inggris, Spanyol dan Jepang. Daisuke adalah “mobile person” atau manusia yang selalu bergerak. Pada dasbor speedometer di sepedanya masih tercatat: 144,165 km atau lebih dari 90,000 mil (catatan pada tanggal 24 April 2009) dan masih terus menghitung di negara yang ke-125 yang sedang ia kunjungi, Indonesia.
Dia telah bertemu Edmond Hillary, orang pertama yang mendaki Gunung Everest, Pesepakbola terkenal didunia Pele, Heinz Stucke (the Guinness world record holder for pedal cycling around the world), Jimmy Carter (mantan presiden Amerika Serikat) dan Lech Walesa (mantan presiden Polandia). Salah satu hal yang mengilhami saya, ia telah menyebutkan “Aku sangat kasihan terhadap semua orang yang hanya membuang-buang waktu mereka untuk kegiatan sehari-hari tanpa mimpi apapun.” Ia mempunyai impian untuk melihat dunia, namun dengan sedikit uang dan begitu banyak pengalaman. Ya, hanya bisa dengan menggunakan sepeda. Dia juga ingin memperbanyak kenalan teman dari setiap kota dan negara yang dia kunjungi. “Begitu beruntungnya aku, hanya dengan modal kemauan yang kuat, aku sudah bisa melihat dunia dalam berbagai kehidupan, adat istiadat, budaya, golongan, ras dan kepercayaan agama dari banyak negara. Namun ini belum seberapa dengan luasnya muka bumi ini”
“Hidup ini hanya sekali, Anda harus menghabiskannya secara bijaksana. Saya melanjutkan perjalanan saya pada dana sendiri jika memungkinkan. Aku punya banyak teman baik yang memberikan dukungan bagi saya untuk melanjutkan perjalanan.” Dorongan mereka memberi saya kekuatan untuk mendorong pedal sepedaku ini. Dia tidak disponsori, hanya mempunyai semangat yang mengagumkan. “I want to see real world by myself with my bike. I want to make one million friends all over the world. I enjoy my freedom… this is my DREAM!” (Daisuke Nakanishi) Singgah di Jakarta
Singgah di Jombang Dia memutuskan untuk beristirahat di Jombang. Mencoba bertukar informasi dengan sejumlah wartawan yang ada di Jombang Media Center (JMC) sebelum menuju Surabaya. “Masing-masing tas isinya berbeda. Mulai dari pakaian sampai peralatan untuk membenahi sepeda jika rusak. Juga onderdil sepedanya,” ujar Daisuke dengan menggunakan bahasa Inggris. Dia mengaku, biaya perjalanan ini dia kumpulkan selama enam tahun sejak bekerja di salah satu perusahaan di Jepang sesaat setelah ia lulus kuliah. Sejak berangkat, dia mengantongi uang sebesar USD $50 ribu. Setiap membutuhkan uang, dia harus mengunjungi anjungan tunai mandiri. Namun tak jarang, ada warga yang memberikan uang dan menambah bekal kepadanya. “Saya tak pernah meminta. Tapi jika diberi, saya juga menerima,” tukasnya. Pengalaman berharga ia dapatkan saat tiba di Kenya. Saat itu, ia tiba-tiba terserang malaria. Suhu di sekujur tubuhnya tiba-tiba tinggi. Ia pun harus rela kehilangan dua minggu perjalanannya untuk sembuh dari penyakitnya. “Tak berobat ke rumah sakit. Hanya meminum obatnya saja,” tukasnya. “Saat tiba di Jogjakarta, saya sempat dijamu dengan makanan khas daerah itu, saya suka,” tandas pria yang sebelumnya bekerja sebagai kontraktor ini. Daisuke merencanakan bahwa perjalanannya di Indonesia akan ia akhiri di Bali, untuk kemudian diteruskan ke Philipina, Vietnam, Laos, Thailand, Myanmar, Korea, dan berakhir di Jepang. Dikirim : Robert AF Budiman - Sumber : http://spedaontel.wordpress.com |










Pilihan berani dilakukan Daisuke Nakanishi, warga negara Jepang yang lahir di Kawanishi, Osaka Jepang pada 6 Maret 1970. Tubuhnya langsing dan liat dengan warna kulit lebih gelap dibandingkan umumnya orang Asia Timur. Topi tak


